DESA PAKUURE I - KEC. TENGA - KAB. MINAHASA SELATAN - SULAWESI UTARA

Artikel

SEJARAH DESA PAKUURE SATU DAN SUSUNAN PEMIMPIN PAKUURE SATU

05 Agustus 2023 11:49:06  Administrator  18.121 Kali Dibaca  INFORMASI DESA

SEJARAH DESA PAKUURE

        Pada jaman dahulu desa Pakuure masih belum terbentuk dimana hanya berupa hutan belukar, kemudian datanglah sekelompok orang dari minahasa tengah yang biasa disebut orang (puser in tanak) dari pembagian suku-suku dibawah pimpinan dari si tonaas Rumondor Ngayow bersama isterinya yang bernama Rura Rorong bersama dengan pengikut-pengikutnya yang cukup banyak berjalan menyusuri tepi laut Sulawesi utara bagian utara dengan maksud mencari suatu tempat dimana dengan muda orang membuat garam. sekelompok orang yang dibawah pimpinan tonaas tersebut membuat suatu terung/sabuah yang dijadikan perkampungan dikompleks muara sungai yang diberi nama ‘rate’, dikarenakan pada waktu mereka tinggal disana mereka diserang dengan suatu penyakit malaria atau panas dingin yang dengan bahasa mereka  disebut ‘marate’, yang lama kelamaan lokasi/tempat itu disebut Sidate,oleh karena dialek atau salah penyebutan. Penyakit marate itu terus menghantam beberapa orang ini  yang mulanya mereka merasa aman di tempat ini karena banyaknya mata pencahariannya seperti pembuatan garam, bertani, berburu dan nelayan, namun karena penyakit ini terus menggangu,maka si tonaas Nyagow ini mengambil tindakan untuk meninggalkan tempat tersebut dan mereka berjalan menuju kearah selatan menelusuri sungai ini dan tibalah mereka disuatu tempat yang banyak bebuluan halus kemudian mereka menetap disana dan membuat perkampungan yang disebut “wuluud” yang artinya banyak bulu halus dan tempat itu sekarang bernama “Tongkeina”. namun tempat ini/perkampungan ini tidak lama di tempati karena orang-orang ini datang diganggu oleh sekelompok orang-orang mangindanao.

        Mangindanao adalah orang-orang portugis dan spanyol yang sudah tinggal di daerah mangindanao/philipines. tidak diketahui kenapa orang mangindanao ini mengetahui tempat itu. orang-orang tersebut bukan hanya menganggu namun juga mencuri wanita-wanita untuk dijadikan isteri lokal mereka, sehingga mereka disebut “mamuis”dan orang-orang yang dicuri tersebut dibawah mereka kedaerah mangindanao. Pekerjaan orang-orang ini adalah pembajak laut, bekas kampung yang ada di daerah Tongkeina ini ditemukan sebuah batu berbentuk lonjong yang diperkirakan dipuja oleh Tonaas ini serta pengikutnya (batu tumo towa).


        Masih dengan tonaas Rumondor Ngayow yang memimpin penduduk tersebut yang dikejar-kejar oleh sekelompok mamuis dari mangindanao, mereka lari menuju bagian timur melewati sungai molinow yang artinya (babayang) sehinga tibalah mereka di darah tanah yang disebut “kemel” yang artinya subur atau gemuk sebab segala jenis tanaman yang di tanam disana semua tumbuh dengan subur serta juga disana tumbuh jenis rumput yang subur,yang apabila dicangkul akan semakin bertamba banyak. di tempat ini suatu ketika ada seorang terkena penyakit kulit yang diinamai mereka sebagai "penyakit kudis" dan orang tersebut di karantinakan ke daerah Tongkeina, namun sebelum dikarantina telah diberi ultimatum bahwa apabila orang-orang mangindanao datang mencari lokasi penduduk supaya jangan dikatakan lokasinya. suatu waktu sikrisen (orang yang di karantina) ini demi menyambung hidup sedang mencari ikan dilaut datanglah orang-orang mamuis (mangindanao) bertemu dengan dia serta mengancam untuk membunuh apabila dia tidak akan mengatakan lokasi tempat tinggal penduduk,maka dengan terpaksa sikrisen ini katakan bahwa apabila di pagi Hari sekitar jam 2 ada ayam berkokok disitulah mereka tinggal dan terjadilah seperti yang dikatakan oleh sikrisen, akhirnya terjadilah kekacauan yang cukup besar pada penduduk yang ada di kemel. mereka tinggal didaerah ini kira-kira 5 (lima) tahun lamanya, akhirnya pindah lagi karena orang-orang mangindanao masih mengejar-ngejar penduduk ini sehingga dari perkampungan ini mereka terpisah lari menjadi 4 (empat) arah karena terjadi kekacauan yang luar biasa,yaitu: kemel Radey, kemel Tenga, ada juga yang kembali ke Tongkeina, dan banyak yang mengikuti tonaas kearah selatan di tempat yang lebih tinggi dan tempat itu banyak sekali tumbuh-tumbuhan paku yang biasa disebut orang paku in tu’a, dan lama kelamaan tempat itu mereka jadikan perkampungan dan diberi nama “paku”. cukup lama mereka tinggal di tempat ini oleh karena dianggap aman sehingga lokasi perkampungan ini di perintahkan oleh tonaas untuk di Tanami bebuluan di pinggiran kampung yaitu bulu yang disebut “pakayu” bulu berduri, dengan maksud agar terlindung dari ganguan dari  binatang buas termasuk orang-orang yang disebut “mamuis”. selain itu juga bagi penduduk di perintahkan apabila membuat/mendirikan rumah atau tempat tinggal agar dibuat tiang penyangga yang cukup tinggi  2,5 – 3 meter, hal ini menjaga serta menghindari dari bahaya binatang buas termasuk bangsa pengacau/mamuis. mereka telah berencana apabila mendapat serangan,maka semuanya telah diperintahkan untuk buat air panas dicampur dengan sayuran labu kemudian disiramkan kepada siapa saja yang ada di bawah kolong rumah yang mencoba menyerang baik binatang buas maupun gerombolan orang mamuis yang berada dibawah kolong rumah penduduk, dan terjadilah demikian sehingga orang-orang (mamuis) tersebut tidak lagi menggangu penduduk setempat.

Adapun tumbuhan paku ini dijakan penduduk sebagai suatu makanan, kampung paku ini juga dikelilingi oleh dua buah sungai dan selama mereka berada di kampung ini banyak sekali perkembangan termasuk diantaranya dikunjungi oleh penginjil yang mengabarkan kabar baik tentang keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus oleh Guru Lumintang yang mengajarinya.dan kemudian di kampung ini juga mereka mulai mengenal Pemerintahan sehingga mereka mengangkat seorang pemimpin sebagai kepala kampung yaitu Bapak Petrus Mamangkey kira-kira tahun 1874 s/d 1884. Bapak inilah yang diangkat sebagai kepala kampung pertama. penanaman kelapa dilokasi ini sudah mulai dilakukan sebab mata pencarian dari penduduk pada waktu itu adalah berkebun dan berburu.


        Tahun demi tahun penduduk semakin bertambah dan setelah dilihat oleh tonaas dan seluruh penduduk bahwa lokasi yang mereka diami sangat sulit dibuat jalan untuk menghubungkan dengan kampung yang lain termasuk datang kepantai,sehingga beberapa orang yang diperintahkan berjalan menuju kearah barat melintasi kembali sungai Tolenday dan akhirnya mereka dapati suatu daerah/lokasi yang baik yaitu suatu pegunungan yang dari bukit lolombulan turun sampai kepantai dengan tidak ada serokan atau sungai yang melintasi atau juga tidak putus-putus dataran tanahnya. sebelum penduduk diperintahkan untuk tinggal didaerah ini,dahulunya lokasi ini pernah dibuat suatu ritual oleh para Dotu/tonaas dengan suatu kepercayaan penduduk yang pada waktu itu masih menganut animisme yaitu para dotu mengambil suatu cabang kayu kemudian mereka membacakan doa sesuai dengan kepercayaannya selanjutnya mematahkan cabang kayu tersebut atau yang disebut “peku/peku’an”dan ditanam disuatu tempat yang saat sekarang ini berada didaerah Desa Pakuure.

        Ritual ini dilakukan oleh para dotu artinya untuk mengantisipasi semua orang luar,termasuk para mamuis(mangindanao) yang datang mencuri di daerah ini sehingga dalam doa mereka mengatakan bahwa apabila ada orang luar yang datang melintasi/melewati masuk di daerah ini (daerah Peku/pineku’an) pasti tidak akan pulang dengan selamat (mati).

        Penduduk yang ada dikampung paku ini semakin banyak kemudian pada suatu waktu Dotu Paruntu Egeten dan beberapa teman lainya yang biasa membuat garam di pantai bersepakat bahwa setelah mereka selesai membuat garam, karna dengan kelelahan untuk menempuh lagi perjalanan pulang oleh dotu tersebut memerintah untuk membuat dasen/terung sementara untuk di tempati namun lama-kelamaan karna lokasi tersebut dilihat baik dan semakin aman daerah ini,maka sekelompok orang pembuat garam ini mengambil keputusan untuk tinggal menetap didaerah tersebut yang sampai saat ini disebut Desa Paku weru karna sudah ada nama paku lama/pekuan ure.Dan yang masih tinggal di kampung lama ini,oleh dotu yang masih tinggal di roong Paku ini memerintahkan penduduk untuk pindah tempat kearah barat dan terjadilah tiga kelompok yaitu kelompok yang disebut nasrani (yang sudah mengenal Agama dipimpin oleh Guru Lumintang) dan yang kelompok yang satu adalah kelompok animisme yang berjalan sangat hati-hati karna harus mendengar tanda-tanda sesuai kepercayaan mereka punya pantangan/larangan/poso,dan kelompok yang lain dipimpin oleh kepala kampung  Tonaas Petrus Mamangkey mengikuti jalur Tengah.kelompok kaum nasrani mengikuti arah bagian utara yang saat ini ada di Desa Pakuure serta kelompok kaum animisme mengikuti jalur bagian selatan dan akhirnya tibalah mereka disuatu tempat yang saat ini dihalaman dari keluarga Anis dan membuat suatu ritual yaitu sesembahan sesuai dengan kepercayaan mereka.dan kelompok ini masih juga sempat melangsungkan perjalanan menuju kebagian barat yaitu di lokasi yang saat ini disebut kebun peimpeng namun mereka melihat tidak layak untuk dijadikan perkampungan sehingga mereka kembali ditempat semula dimana mereka membuat ritual.lama-kelamaan bersatulah kembali tiga kelompok ini untuk menetap di daerah ini akhirnya sepakat menamai daerah ini Roong “PAKUURE”yang berasal dari kata Peku/Peku’an dan dipadukan dengan nama kampung yang lama yaitu Paku karna juga di daerah ini banyak tumbuh tumbuhan Paku in tu’a.hal ini terjadi sekitar kira-kira tahun 1875.dan dikampung ini mereka masih mengangkat Bapak Petrus Mamangkey sebagai Tonaas/kepala kampung karna dianggap telah banyak mendidik mereka sejak ada di kampung paku.Kampung yang dulunya disebut Paku sekarang bernama Perkebunan “MAWALE”(bekas rumah).Dotu Kumolontang Pangaila mengantikan Dotu Petrus Mamangkey dalam melaksanakan tugas dan dotu ini memerintah dengan Hukum adat.setelah dotu kumolontang pangaila diganti lagi oleh dotu Daniel Mamangkey yang sampai kepada dotu inilah yang disebut dotu dan setelah itu mulai dari Hero Mamangkey sudah disebut Hukum Tua.dan Hukum Tua Hero Mamangkey Diganti oleh Benyamin Sangian Na,pemerintahan inilah yang telah membuat perjanjiaan dengan Pemerintahan Belanda mengenai ondernemeng yang ada di Boyong Atas dan Tiniawangko yaitu hanya merupakan pinjaman tanah lahan tersebut namun sampai sekarang sudah menjadi daerah pemukiman dan perkebunan dari kedua desa tersebut.Bapak Mawey Irenius Keintjem yang telah mengantikan Bapak Benyamin Sangian yang memerintah hinga pajak yang ada di desa ini sangat maju sekali,pada masa pemerintahan Jepang Bapak Pesik Mawei yang telah menjadi Hukum Tua dan Bapak Jan Liando,kemudian pada masa pemerintahan NICA kembali dipimpin oleh Mawei Irenius Keintjem.setelah itu dimasa transisi Pemerintahan Repoblik Indonesia dengan Pemerintah Belanda di pimpin oleh Hukum Tua Bastian Pangaila.Setelah kemerdekaan RI terjadilah pergolakan perang permesta,maka masyarakat Desa Pakuure mengadakan pengunsian di beberapa tempat yaitu ada kelompok masyarakat yang mengungsi ke daerah perkebunan yang disebut Munte dan ada juga kelompok masyarakat yang mengungsi kedaerah perkebunan Palaungen,kemel dan tempat yang lain dan dipimpin oleh Hukum Tua Ferdinan Mamangkey kemudian diganti oleh H J P Sangian serta dimasa perdamaian Pemerintahan Republik Indonesia dengan Permesta di pimpin oleh Hukum Tua Johan Panambunan.


        Tahun berganti tahun penduduk Desa Pakuure semakin bertambah serta berkembang dengan pesat yang disertai dengan berbagai pembangunan yang ada,maka pada Tahun 1977 tepatnya tanggal 17 Oktober dimasa Pemerintahan Arnold J. Sangian Desa Pakuure dimekarkan menjadi Dua yaitu Desa Pakuure Satu di daerah bagian Utara dan Desa Pakuure Dua di daerah bagian selatan dengan batas desa SMP.Negeri Pakuure,sejak tahun itulah nama desa Pakuure menjadi Hilang untuk sementara waktu.kemudian tahun berganti tahun perkembangan penduduk semakin bertambah lagi,maka Desa Pakuure Dua pada Tahun 1998 Desa Pakuure Dua mekar lagi menjadi Desa Pakuure Dua dibagian Utara dan Desa Pemekaran di bagian selatan yang diberi nama Desa Pakuure Tiga.Tahun berganti tahun jumlah penduduk semakin bertambah pembangunan semakin banyak dan juga dituntut dengan kebutuhan penduduk yang karena mendapat peluang undang-undang serta peraturan Pemerintah,masyarakat Desa Pakuure Raya punya rencana ingin menjadikan Desa Pakuure Raya ini menjadi satu kecamatan termasuk Boyong atas,maka dengan kesepakatan bersama dari tiga desa yang ada memekarkan masing-masing desa yaitu pada tahun 2008 bulan juni tanggal lima ketiga Desa ini berhasil memekarkanya menjadi enam desa yaitu ; Desa Pakuure Satu memekarkan satu desa Yaitu diberi nama Desa Pakuure(sejak itulah nama ini bangkit kembali), Desa Pakuure Dua memekarkan satu Desa yaitu diberi nama Desa Pakuure Tinanian(karena dilokasi inilah halaman dari keluarga Anis yang pertama para dotu membuat ritual – tumani), Desa Pakuure Tiga memekarkan satu Desa yang di beri nama Desa Pakuure Kinamang(desa Penuh perjuangan). dibawah ini kita akan lihat kronologi pemimpin desa pakuure dan pakuure raya.

 

SUSUNAN PEMIMPIN DESA PAKUURE DAN PAKUURE SATU

 

NO NAMA MASA BAKTI KETERANGAN
1 RUMONDOR NGAYOW  1870-1873 TONAAS-ALMARHUM
2 PETRUS MAMANGKEY 1874-1884 TONAAS-ALMARHUM
3 DANIEL MAMANGKEY  1885-1890 TONAAS-ALMARHUM
4 HERO MAMANGKEY 1891-1894 KUMTUA-ALMARHUM
5 BENYAMIN SANGIAN 1895-1915  KUMTUA-ALMARHUM
6 YOHANIS SANGIAN  1916-1918 KUMTUA-ALMARHUM
7 LODWYK MAMANGKEY 1919-1921  KUMTUA-ALMARHUM
8 THERTIUS WURANGIAN 1922-1932 KUMTUA-ALMARHUM
9 MAWEY KIENTJEM  1933-1942 KUMTUA-ALMARHUM
10 PESIK RAMPI 1942-1943 PEJABAT-ALMARHUM
11 JAN G. LIANDO 1943-1945 KUMTUA-ALMARHUM
12 MAWEY KIENTJEM 1945-1950 KUMTUA-ALMARHUM
13 HEIN J.P. SANGIAN 1950-1955 KUMTUA-ALMARHUM
14 HEIN J.P. SANGIAN 1955-1962 KUMTUA-SEBAGAI ANGGOTA DPR
 
  1. FERDINAN MAMANGKEY
  2. THOMAS SAGAI
  3. NICOLAS PANGAILA
  4. JAFET H.SANGIAN
  5. PHILIPUS LAMIA
  6. MANUEL SUMUAL
  7. JOHAN LEMPAS 
1956-1961
PERGOLAKAN PERMESTA, ADA WAKIL-WAKIL KUMTUA
DISETIAP DAERAH PENGUNGSIAN
15 JOHAN PANAMBUNAN  1962-1964 PEJABAT-ALMARHUM
16 FRANS J.MONGKAU 1964-1970 KUMTUA-ALMARHUM
17 HEIN J.P.SANGIAN 1970-1974 KUMTUA-ALMARHUM
18 ARNOLD J.SANGIAN 1974-1977 KUMTUA-ALMARHUM
  TANGGAL 17 OKTOBER 1977PEMEKARAN DESA PAKUURE.    
19 FERDINAN MAMANGKEY 1977-1980 PEJABAT-ALMARHUM
20 ARNOLD J. SANGIAN 1980-1986 KUMTUA-ALMARHUM
21 ARNOLD J SANGIAN 1986-1991 KADES-ALAMARHUM
22 RUDDY MANDEY 1991-1993 PEJABAT KADES
23 JHONY KODONGAN 1993-2002 KEPALA DESA
24 RIEKE J.S. SANGIAN 2002-2007 HUKUM TUA
25 STENLY B. LENGKEY 2007-2013 HUKUM TUA
26 STENLY B. LENGKEY 2013-2019 HUKUM TUA
  PEMEKARAN DESA PAKUURE SATU    
27 ADOLFIN JUNITA RAWUNG 2019-SEKARANG PEJEBAT HUKUM TUA

 

Kirim Komentar


Nama
No. Hp
E-mail
Isi Pesan
  CAPTCHA Image  
 

 Peta Desa

 Statistik

 Arsip Artikel

07 Agustus 2023 | 37 Kali
GIAT KERJA BAKTI MASSAL MENYAMBUT HUT RI KE-78
07 Agustus 2023 | 30 Kali
KEADAAN EKONOMI DESA PAKUURE SATU
07 Agustus 2023 | 33 Kali
KEADAAN SOSIAL DESA PAKUURE SATU
07 Agustus 2023 | 26 Kali
DEMOGRAFI
07 Agustus 2023 | 39 Kali
SEJARAH DESA
07 Agustus 2023 | 31 Kali
STRUKTUR APARAT DESA
05 Agustus 2023 | 18.121 Kali
SEJARAH DESA PAKUURE SATU DAN SUSUNAN PEMIMPIN PAKUURE SATU
05 Agustus 2023 | 18.121 Kali
SEJARAH DESA PAKUURE SATU DAN SUSUNAN PEMIMPIN PAKUURE SATU
07 Agustus 2023 | 39 Kali
SEJARAH DESA
07 Agustus 2023 | 37 Kali
GIAT KERJA BAKTI MASSAL MENYAMBUT HUT RI KE-78
07 Agustus 2023 | 33 Kali
KEADAAN SOSIAL DESA PAKUURE SATU
07 Agustus 2023 | 31 Kali
STRUKTUR APARAT DESA
07 Agustus 2023 | 30 Kali
KEADAAN EKONOMI DESA PAKUURE SATU
07 Agustus 2023 | 26 Kali
DEMOGRAFI
07 Agustus 2023 | 30 Kali
KEADAAN EKONOMI DESA PAKUURE SATU
07 Agustus 2023 | 33 Kali
KEADAAN SOSIAL DESA PAKUURE SATU
05 Agustus 2023 | 18.121 Kali
SEJARAH DESA PAKUURE SATU DAN SUSUNAN PEMIMPIN PAKUURE SATU
07 Agustus 2023 | 26 Kali
DEMOGRAFI
07 Agustus 2023 | 37 Kali
GIAT KERJA BAKTI MASSAL MENYAMBUT HUT RI KE-78
07 Agustus 2023 | 31 Kali
STRUKTUR APARAT DESA
07 Agustus 2023 | 39 Kali
SEJARAH DESA

 Agenda

Belum ada agenda

 Sinergi Program

 Aparatur Desa

 Komentar

 Media Sosial

 Peta Wilayah Desa

 Peta Lokasi Kantor


Kantor Desa
Alamat : Jl. Raya Desa Pakuure Satu, Kec. Tenga. Kab. Minahasa Selatan
Desa : Pakuure Satu
Kecamatan : Tenga
Kabupaten : Minahasa Selatan
Kodepos : 95355
Telepon :
Email :

 Statistik Pengunjung

  • Hari ini:166
    Kemarin:159
    Total Pengunjung:22.105
    Sistem Operasi:Unknown Platform
    IP Address:34.204.169.230
    Browser:Tidak ditemukan